Pandangan Islam Terhadap Fenomena Gerhana Matahari Dan Bulan

Authors

  • Muhammad Irwansyah Nur Alim Universitas Lambung Mangkurat
  • Annisa Ghina Rahman
  • Putri Handayani
  • Lidya Hanifah
  • Nahdiah

Keywords:

Fenomena, Gerhana, Matahari, Bulan

Abstract

Matahari dan bulan merupakan dua makhluk Allah swt. yang sangat akrab dalam pandangan manusia sehari-harinya. Peredaran dan silih bergantinya yang sangat teratur merupakan ketetapan aturan penguasa jagadsemesta ini. Semua yang menakjubkan dan luar biasa pada matahari dan bulan menunjukkan akan keagungan dan kebesaran serta kesempurnaan Penciptanya. Oleh karena itu, Allah swt. membantah fenomena penyembahan terhadap matahari dan bulan. Yang sangat disayangkan ternyata keyakinan kufur tersebut banyak dianut oleh bangsa-bangsa besardi dunia sejak berabad-abad lalu, seperti di sebagian bangsa Cina, Jepang,Yunani, dan masih banyak lagi. Syariat Islam yang diturunkan oleh penguasa alam semesta ini memberikan bimbingan dan pencerahan terhadap akal-akal manusia yang sempit dan terbatas untuk membuktikan bahwa akal para filosof,rohaniawan, para wikan, paranormal dan adalah akal yang terbatas dan sangat bisa mengalami kesalahan dan kekeliruan bahkan bisa sesat. Sebagai penegasan bahwa kebenaran dan hidayah hanya ada pada syariat yangdibawa oleh para Nabi dan Rasul. Karena melalui berbagai riset ilmiah,manusia bisa mengetahui sebab terjadinya gerhana tersebut secara pasti dan benar. Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka yang berasal dari jurnal di internet. Penelitian ini menggunakan metode library, Data yang diperoleh kemudian dianalisis serta ditelaah secara mendalam atas referensi yang dipakai, sebagaimana halnya dalam studi kepustakaan atau library research penelitian ini. menjelaskan bahwa pandangan Islam terhadap fenomena gerhana matahari dan bulan Ada 3 hal yang menjadi implikasi dari hadirnya peristiwa gerhana di muka bumi ini, yaitu ibadah hukum, sains, dan mitos.

References

Alimuddin., Gerhana Matahari Perspektif Astronomi', al-Daulah, Vol. 3,No. 1, Juni 2014.

Al-Dimasyqi, Ibnu Katsi>r. Tafsir al-Qur'an al-'Az)i>m, Jil. IV. Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997.

Ismail, Muhammad Bakr. al-Fiqh al-Wa>dih, Juz 1. Cet. II; Cairo: Dar al-Mana r. 1997. Al-Ja'fi>, Muhammad bin Isma>'i>1 al-Bukhari>, Shahih al-Bukhari>, Juz. 2, Cet.1: Damaskus: Da>r Thauq al-Naja>, 1422 H.

Jayusman, Muhammad. Fenoemena Gerhana Dalam Wacama Hukum Islam dan Astronomi, Jurnal al-Adalah, Vol. 10, No. 2, Juli 2011, h. 238.

Kamisa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Dilengkapi Ejaan Yang Disempurnakan dan Kosakata Baru. Cet. I; Surabaya: Cahaya Agency, 2013. Al-Qurtubi>, Abi> Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansha>ri>. al-Ja>mi' li

Ahkam al-Qur'an, Jilid. VIII, Juz. 15. Cet. I; Beiru>t: Dar al-Kutub al- 'Ilmiyyah, 2000. Al-Razzaq, Abd. al-Mushannaf. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1403 H.

Sa biq, Sayyid. Fiqh al-Sunnah, Juz 1. Cet. II; Cairo: Dar al-Fath li al-I'la>m al-Arabi>, 1999. Sahabuddin, et.al, Ensiklopedia al-Qur'an; Kajian Kosakata, Jilid. II. Cet. 1; Jakarta: Lentera Hati, 2007.http://journal.jaingorontalo.ac.id/index.php/am

Fikih Gerhana: Menyorot Fenomena Gerhana Perspektif Hukum Islam

Sayful Mujab. Gerhana; Antara Mitos, Sains dan Islam', Yudisia, Vol. 5, No. 1. Juni 2014.

Al-Shan'a ni>, Muhammad bin Isma>i>l al-Amir al-Yamani>. Subulu al-Sala>m, Jilid. II. Mansoura: Dar al-Ima>n, t.th.

Al-Syaibani, Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin al-Asad. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Juz 30. Cet. I; Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001.

Al-Syauka ni>, Muhammad bin Ali. Nailu al-Authar Syarh Muntaqa> al-

Akhyar min Aha>di>s Sayyid al-Akhyar, Jilid. II, Juz 3. Cet. II; Beirut: Dar al-Khai>r, 1998. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. II;

Jakarta: Balai Pustaka, 2002. Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Figh al-Islami wa Adillatuh, Jil. II. Cet. IV; Damaskus: Dar al-fikr, 2002.https://fatahillahabdurrahman.wordpress.com.

Downloads

Published

2023-10-26